CPO Berpotensi Lanjutkan Pelemahannya

Jakarta: Pelemahan harga crude palm oil (CPO) masih besar kemungkinan berlanjut pada hari ini setelah kemarin ditutup turun 1,3 persen di level 2.237 ringgit Malaysia, karena data yang pesimistis yang dirilis oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

Berdasarkan data yang dirilis kemarin siang menunjukkan cadangan minyak kelapa sawit untuk periode Agustus naik 12,4 persen dari bulan sebelumnya menjadi 2,49 juta ton, sementara itu untuk produksi naik 7,9 persen menjadi 1,62 juta ton.

Sementara untuk tingkat ekspor turun 8,1 persen menjadi 1,1 juta ton, lebih lemah dari perkiraan. Demikian disampaikan Analis Monex Investindo Futures Faisyal, dalam hasil risetnya, Kamis, 13 September 2018.

Sebelumnya dalam sebuah survei diperkirakan produksi di Agustus akan naik 9,9 persen menjadi 1,65 juta ton, meningkatkan level cadangan ke level tertinggi enam bulan menjadi 2,41 juta ton.

Namun, pelemahan harga CPO berpotensi terbatas seiring melemahnya mata uang ringgit. Pukul 11.27 WIB terpantau di level 4,1425 per dolar AS, melemah 0,06 persen. Ringgit yang melemah akan membuat harga minyak kelapa sawit menjadi lebih murah untuk pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Sementara untuk harga CPO kontrak November 2018 pada hari ini dibuka di level 2.245 ringgit Malaysia, dengan level tertingginya di 2.249 ringgit Malaysia, dan level terendahnya di 2.239 ringgit Malaysia dengan harga saat ini sedang berada di level 2.246 ringgit Malaysia.

Potensi pelemahan pada hari ini perlu dikonfirmasi untuk penembusan bawah level 2.235 ringgit Malaysia (support 1), 2.226 ringgit Malaysia (support 2), dan 2.214 ringgit Malaysia (support 3) dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level 2.250 ringgit Malaysia (resisten 1), 2.263 ringgit Malaysia (resisten 2), dan 2.277 ringgit Malaysia (resisten 3).

(AHL)